Sabtu, 25 Oktober 2014

Menumbuhkan Jiwa Berkorban

Oleh Said Aqil Siradj, Ketua umum PB NU
BERMULA dari kisah Nabi Ibrahim sebagai lambang tauhid berhadapan dengan kesyirikan yang diwakili ayahnya sendiri dan masyarakatnya. Tatkala kemudian, Nabi Ibrahim pergi meninggalkan negerinya ke selatan dan ini merupakan hijrahnya untuk kali pertama. Baginya, kebenaran lebih berharga daripada kepalsuan yang selama ini sudah berakar dan meracuni pikiran dan hati masyarakat.
Mulanya Ibrahim yang hingga usia lanjut belum juga mendapat keturunan berdoa agar dikaruniai seorang anak yang saleh. Doa Ibrahim terkabul. Tuhan telah menyampaikan berita gembira kepadanya bahwa ia akan mendapat seorang anak laki-laki yang tabah dan siap menderita. Lahirlah Ismail dari rahim seorang ibu yang salehah, yaitu Hajar. Kemudian, Ibrahim beserta keluarga pergi ke suatu daerah di dekat Baitullah.
Allah memang menguji Ibrahim dengan perintah-perintah tertentu dan menyebutkan bahwa rumah Tuhan sebagai tempat berhimpun sekalian manusia, tempat yang aman dan tempat salat. Ibrahim dan Ismail mendapat perintah agar membersihkan tempat itu (dari segala kotoran dan berhala) bagi orang yang akan bertawaf, melakukan iktikaf, ruku, dan sujud.
Ketika Ismail sudah beranjak besar dan bisa berjalan, sang ayah berkata kepada anaknya bahwa ia bermimpi menyembelihnya sebagai kurban. Ibrahim lalu meminta pendapat anaknya. Sang anak menjawab agar mimpi itu dilaksanakan. Ia akan tetap sabar dan tabah. Setelah keduanya berserah diri kepada Allah dan sang anak sudah menerimanya dengan ikhlas, kemudian direbahkan untuk disembelih.
Dengan bertawakal kepada Allah, Ibrahim telah meletakkan landasan agama-agama besar. Karena itu, ditegaskan Ibrahim bukan Yahudi dan bukan Nasrani, tetapi orang yang hanif dan seorang muslim (menyerahkan diri kepada segala perintah Allah) dan yang terpenting, bukan musyrik (Q.S. 3:67).
Demikianlah, tradisi kurban pada setiap Idul Adha yang juga disebut Idul Kurban. Kisah yang mengharukan dan filosofis itu dilukiskan dalam Alquran hanya dalam sepuluh ayat pendek dan di bagian lain sebuah pernyataan yang juga hanya sekitar sepuluh ayat. Yang pertama, kurban adalah simbol pengorbanan demi membela tauhid. Yang kedua, kurban demi membela dan membantu kaum fakir miskin (Q.S. 22:28).
Memang, kurban ini wujudnya berupa hewan yang secara simbolis dipersembahkan kepada Tuhan. Tetapi, konkretnya, ”yang sampai kepada Allah bukan daging dan darahnya, melainkan ketakwaan.” (Q.S. 22:37). Ketakwaan yang menjadi salah satu syarat tersebut tak lain adalah kecintaan kepada Tuhan dan itu menuntut juga untuk mencintai sesama manusia dengan segala perbuatan baik.
Di sini, kita diuji dalam arti lahir, untuk selalu menyantuni masyarakat yang tidak mampu. Begitupun, kita diuji dalam arti batin untuk selalu bersikap sabar dan tabah. Bahkan, secara simbolis anak yang merupakan curahan cinta kasih ibu dan bapak pun harus dikorbankan demi kecintaan kepada sesama manusia yang lebih luas, dengan membuang jauh-jauh sifat egoisme, mementingkan diri sendiri, keluarga, harta, pangkat, dan keturunan.
Rangkaian ibadah haji sesungguhnya memberi arti dengan dimensi yang luas dalam pengertian dan kehidupan agama dan sosial. Isyarat itu menunjukkan bahwa kita mesti berkorban secara rohani, materi, dan fisik.
Berbenah Diri
Setiap muslim dengan keimanan dan kesadarannya ingin berziarah ke Masjidilharam dan Kakbah. Bahkan, tak jarang orang harus berulang-ulang pergi haji. Itu tak lepas dari doa nabi Ibrahim, ”Jadikanlah hati sebagian manusia mencintai mereka.” (Q.S.14:37). Hanya, alangkah indahnya mereka yang sudah berkali-kali pergi haji sesekali menggantinya dengan berkorban membagikan biaya hajinya berikut biaya kurban untuk disedekahkan kepada masyarakat fakir miskin di negeri kita yang secara statistik masih melimpah.
Di sisi lain, kita patut terus bertanya, mengapa di negeri mayoritas muslim ini, korupsi tetap merajalela? Apanya yang salah? Bukankah agama sudah memberikan banyak ritual dan pelatihan spiritual guna meningkatkan keamanahan diri? Bukankah hakikatnya salat, puasa, dan juga ibadah haji kalau ditunaikan secara kontemplatif-reflektif akan melahirkan ”daya ledak” kedirian yang luar biasa sehingga akan bisa meningkatkan potensi diri, disiplin, profesionalitas, kepekaan sosial yang tinggi, dan semangat persatuan atau kebersamaan umat?
Nah, itulah yang perlu terus kita refleksikan dan implementasikan dalam kehidupan nyata agar bisa mendorong untuk mewujudkan perbaikan di segala bidang. Inilah yang dinamakan jihad sesungguhnya, yakni berjihad untuk mempertahankan dan mengungkapkan secara nyata dalam kehidupan profan ini. Jihad jangan dimaknai sebagai ”bunuh diri”. Hidup nyata inilah yang justru menjadi lahan persemaian semangat jihad. Nabi sudah mengingatkan, dunia adalah tempat menyemai bagi akhirat. Mengutip Syekh Muhammad Abduh, Islam adalah din al hayah (agama kehidupan), bukan din al maut (agama kematian). Kalau tidak ada peningkatan kualitas umat, seolah-seolah kita dapat mengatakan, apa pentingnya jumlah jamaah haji Indonesia yang cenderung tiap tahun meningkat ini dengan perbaikan kualitas diri, yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Padahal, setiap perintah agama pasti mengandung inner drive yang akan berguna bagi peningkatan kualitas pribadi dan sosial.
Kalau dulu kita enggan bersedekah, terlalu berhitung dalam beramal, sering mengecoh, berdusta, dan menggunjing atau sombong, sepulang dari pergi haji kita akan lebih dapat memperbaiki diri dan melaksanakan perbuatan yang terpuji. Ibadah haji merupakan medium membangun kesadaran dan tindakan untuk mengubah sifat egois ke sifat altruis. Yakni, semakin mantap dalam berhubungan dengan Allah dan semakin humanis dalam hubungan dengan sesama manusia.        
Cara mengerjakan segala amal kebaikan tentu tidak terbatas hanya melalui kurban hewan. Bisa juga melengkapi ibadah dalam bentuk lain, misalnya, dialihkan sebagian berupa sembako atau disesuaikan dengan keperluan mendesak masyarakat fakir miskin di lingkungannya.
Nah, umat Islam sudah waktunya untuk menjadikan momen ini sebagai etos bagi peningkatan lahir dan batin. Kita jadi makin sadar akan makna pengorbanan. Manusia hidup pasti akan berhadapan dengan situasi yang mengharuskannya untuk berkurban. Perintah berkurban di Idul Adha ini sesungguhnya menyodorkan idealisme dan realisme dalam kehidupan manusia. Apalagi, saat ini negeri kita tengah menghadapi banyak persoalan sosial, politik, kemanusiaan, dan keagamaan yang menantang untuk melahirkan jiwa-jiwa yang siap berkorban dengan dedikasi yang dilambari semangat kosmopolitan dan universalitas, bukan sektarian. Jelas sudah, justru dalam situasi pelik inilah, kita bisa merasakan betapa pentingnya pengorbanan demi kemanusiaan. Jadilah, pengorbanan sebagai ”roh” bagi setiap aktivitas manusia. Kita perlu lebih mengedepankan pengorbanan demi menggapai cita-cita bangsa yang adil dan beradab. (*/said_aqiel@yahoo.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar