Oleh Said Aqil Siradj, Ketua umum PB NU
BERMULA dari kisah Nabi Ibrahim sebagai lambang tauhid
berhadapan dengan kesyirikan yang diwakili ayahnya sendiri dan
masyarakatnya. Tatkala kemudian, Nabi Ibrahim pergi meninggalkan
negerinya ke selatan dan ini merupakan hijrahnya untuk kali pertama.
Baginya, kebenaran lebih berharga daripada kepalsuan yang selama ini
sudah berakar dan meracuni pikiran dan hati masyarakat.
Mulanya Ibrahim yang hingga usia lanjut belum juga mendapat keturunan
berdoa agar dikaruniai seorang anak yang saleh. Doa Ibrahim terkabul.
Tuhan telah menyampaikan berita gembira kepadanya bahwa ia akan mendapat
seorang anak laki-laki yang tabah dan siap menderita. Lahirlah Ismail
dari rahim seorang ibu yang salehah, yaitu Hajar. Kemudian, Ibrahim
beserta keluarga pergi ke suatu daerah di dekat Baitullah.
Allah memang menguji Ibrahim dengan perintah-perintah tertentu dan
menyebutkan bahwa rumah Tuhan sebagai tempat berhimpun sekalian manusia,
tempat yang aman dan tempat salat. Ibrahim dan Ismail mendapat perintah
agar membersihkan tempat itu (dari segala kotoran dan berhala) bagi
orang yang akan bertawaf, melakukan iktikaf, ruku, dan sujud.
Ketika Ismail sudah beranjak besar dan bisa berjalan, sang ayah
berkata kepada anaknya bahwa ia bermimpi menyembelihnya sebagai kurban.
Ibrahim lalu meminta pendapat anaknya. Sang anak menjawab agar mimpi itu
dilaksanakan. Ia akan tetap sabar dan tabah. Setelah keduanya berserah
diri kepada Allah dan sang anak sudah menerimanya dengan ikhlas,
kemudian direbahkan untuk disembelih.
Dengan bertawakal kepada Allah, Ibrahim telah meletakkan landasan
agama-agama besar. Karena itu, ditegaskan Ibrahim bukan Yahudi dan bukan
Nasrani, tetapi orang yang hanif dan seorang muslim (menyerahkan diri
kepada segala perintah Allah) dan yang terpenting, bukan musyrik (Q.S.
3:67).
Demikianlah, tradisi kurban pada setiap Idul Adha yang juga disebut
Idul Kurban. Kisah yang mengharukan dan filosofis itu dilukiskan dalam
Alquran hanya dalam sepuluh ayat pendek dan di bagian lain sebuah
pernyataan yang juga hanya sekitar sepuluh ayat. Yang pertama, kurban
adalah simbol pengorbanan demi membela tauhid. Yang kedua, kurban demi
membela dan membantu kaum fakir miskin (Q.S. 22:28).
Memang, kurban ini wujudnya berupa hewan yang secara simbolis dipersembahkan kepada Tuhan. Tetapi, konkretnya, ”yang sampai kepada Allah bukan daging dan darahnya, melainkan ketakwaan.”
(Q.S. 22:37). Ketakwaan yang menjadi salah satu syarat tersebut tak
lain adalah kecintaan kepada Tuhan dan itu menuntut juga untuk mencintai
sesama manusia dengan segala perbuatan baik.
Di sini, kita diuji dalam arti lahir, untuk selalu menyantuni
masyarakat yang tidak mampu. Begitupun, kita diuji dalam arti batin
untuk selalu bersikap sabar dan tabah. Bahkan, secara simbolis anak yang
merupakan curahan cinta kasih ibu dan bapak pun harus dikorbankan demi
kecintaan kepada sesama manusia yang lebih luas, dengan membuang
jauh-jauh sifat egoisme, mementingkan diri sendiri, keluarga, harta,
pangkat, dan keturunan.
Rangkaian ibadah haji sesungguhnya memberi arti dengan dimensi yang
luas dalam pengertian dan kehidupan agama dan sosial. Isyarat itu
menunjukkan bahwa kita mesti berkorban secara rohani, materi, dan fisik.
Berbenah Diri
Setiap muslim dengan keimanan dan kesadarannya ingin berziarah ke
Masjidilharam dan Kakbah. Bahkan, tak jarang orang harus berulang-ulang
pergi haji. Itu tak lepas dari doa nabi Ibrahim, ”Jadikanlah hati sebagian manusia mencintai mereka.”
(Q.S.14:37). Hanya, alangkah indahnya mereka yang sudah berkali-kali
pergi haji sesekali menggantinya dengan berkorban membagikan biaya
hajinya berikut biaya kurban untuk disedekahkan kepada masyarakat fakir
miskin di negeri kita yang secara statistik masih melimpah.
Di sisi lain, kita patut terus bertanya, mengapa di negeri mayoritas
muslim ini, korupsi tetap merajalela? Apanya yang salah? Bukankah agama
sudah memberikan banyak ritual dan pelatihan spiritual guna meningkatkan
keamanahan diri? Bukankah hakikatnya salat, puasa, dan juga ibadah haji
kalau ditunaikan secara kontemplatif-reflektif akan melahirkan ”daya
ledak” kedirian yang luar biasa sehingga akan bisa meningkatkan potensi
diri, disiplin, profesionalitas, kepekaan sosial yang tinggi, dan
semangat persatuan atau kebersamaan umat?
Nah, itulah yang perlu terus kita refleksikan dan implementasikan
dalam kehidupan nyata agar bisa mendorong untuk mewujudkan perbaikan di
segala bidang. Inilah yang dinamakan jihad sesungguhnya, yakni berjihad
untuk mempertahankan dan mengungkapkan secara nyata dalam kehidupan
profan ini. Jihad jangan dimaknai sebagai ”bunuh diri”. Hidup nyata
inilah yang justru menjadi lahan persemaian semangat jihad. Nabi sudah
mengingatkan, dunia adalah tempat menyemai bagi akhirat. Mengutip Syekh
Muhammad Abduh, Islam adalah din al hayah (agama kehidupan), bukan din al maut
(agama kematian). Kalau tidak ada peningkatan kualitas umat,
seolah-seolah kita dapat mengatakan, apa pentingnya jumlah jamaah haji
Indonesia yang cenderung tiap tahun meningkat ini dengan perbaikan
kualitas diri, yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Padahal, setiap
perintah agama pasti mengandung inner drive yang akan berguna bagi peningkatan kualitas pribadi dan sosial.
Kalau dulu kita enggan bersedekah, terlalu berhitung dalam beramal,
sering mengecoh, berdusta, dan menggunjing atau sombong, sepulang dari
pergi haji kita akan lebih dapat memperbaiki diri dan melaksanakan
perbuatan yang terpuji. Ibadah haji merupakan medium membangun kesadaran
dan tindakan untuk mengubah sifat egois ke sifat altruis. Yakni,
semakin mantap dalam berhubungan dengan Allah dan semakin humanis dalam
hubungan dengan sesama manusia.
Cara mengerjakan segala amal kebaikan tentu tidak terbatas hanya
melalui kurban hewan. Bisa juga melengkapi ibadah dalam bentuk lain,
misalnya, dialihkan sebagian berupa sembako atau disesuaikan dengan
keperluan mendesak masyarakat fakir miskin di lingkungannya.
Nah, umat Islam sudah waktunya untuk menjadikan momen ini sebagai
etos bagi peningkatan lahir dan batin. Kita jadi makin sadar akan makna
pengorbanan. Manusia hidup pasti akan berhadapan dengan situasi yang
mengharuskannya untuk berkurban. Perintah berkurban di Idul Adha ini
sesungguhnya menyodorkan idealisme dan realisme dalam kehidupan manusia.
Apalagi, saat ini negeri kita tengah menghadapi banyak persoalan
sosial, politik, kemanusiaan, dan keagamaan yang menantang untuk
melahirkan jiwa-jiwa yang siap berkorban dengan dedikasi yang dilambari
semangat kosmopolitan dan universalitas, bukan sektarian. Jelas sudah,
justru dalam situasi pelik inilah, kita bisa merasakan betapa pentingnya
pengorbanan demi kemanusiaan. Jadilah, pengorbanan sebagai ”roh” bagi
setiap aktivitas manusia. Kita perlu lebih mengedepankan pengorbanan
demi menggapai cita-cita bangsa yang adil dan beradab. (*/said_aqiel@yahoo.com)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar