Sabtu, 25 Oktober 2014

Keseimbangan dalam Islam

KESEIMBANGAN, equilibrium, atau keberimbangan merupakan pesan pokok agama Islam. Al-Qur'an dan al-Hadits memberikan petunjuk jelas atas kesimpulan itu ketika kedua sumber itu dibaca secara holistik (menyeluruh).**
Urusan dunia dan urusan akhirat merupakan urusan yang perlu sama-sama dipikirkan dan dijalani dengan baik. Hidup kita saat ini di dunia, dan nantinya kita akan menuju akhirat. Akhirat kita harus dibangun sejak kita di dunia ini. Karena itulah banyak yang berkata: "dunia adalah jembatan menuju akhirat." kalau jembatannya rusak, gagallah kita menggapai keindahan kehidupan akhirat.
Dalam kenyataan keberagamaan, ada yang cenderung bergerak ke arah yang ekstrem. Yang liberal banyak lebih fokus pada dunia, yang fundamentalis lebih banyak fokus pada akhiratnya. Menurut saya, dalam konteks kehidupan kekinian, posisi moderat adalah yang terbaik, dunia akhirat sama-sama diperhitungkan dan dipikirkan.
Ada kisah menarik jaman Rasulullah. Seorang sahabat bernama Usman bin Madz'un selalu berada di masjid, tidak pulang-pulang, tidak mikir dunia dan hanya fokus akhirat. Istrinya ditinggalkan dan tidak lagi disentuh. Si istri lapor pada Rasulullah, dan rasulullah kemudian memanggilnya. Ketika ditanya kkenapa dia tidak pulang-pulang di masjid, jawabnya adalah demi surga, demi akhirat.
Rasulullah bertanya: "apakah kamu kira saya tidak ingin masuk surga?" singkat cerita, rasulullah bersabda bahwa dengan gayanya itu justru dia akan masuk neraka. Disuruhnya dia pulang menemui istrinya, istirahat di tengan kesibukan, berbuka di samping berpuasa, menyeimbangkan urusan dunia dengan akhiratnya.
Salam, AIM.
** Penulis: Prof. DR. KH.Imam Mawardi 
(Pengasuh Pon-Pes Alif Lam Mim, Surabaya)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar