KESEIMBANGAN, equilibrium, atau keberimbangan merupakan
pesan pokok agama Islam. Al-Qur'an dan al-Hadits memberikan petunjuk
jelas atas kesimpulan itu ketika kedua sumber itu dibaca secara holistik
(menyeluruh).**
Urusan dunia dan urusan akhirat merupakan
urusan yang perlu sama-sama dipikirkan dan dijalani dengan baik. Hidup
kita saat ini di dunia, dan nantinya kita akan menuju akhirat. Akhirat
kita harus dibangun sejak kita di dunia ini. Karena itulah banyak yang
berkata: "dunia adalah jembatan menuju akhirat." kalau jembatannya
rusak, gagallah kita menggapai keindahan kehidupan akhirat.
Dalam
kenyataan keberagamaan, ada yang cenderung bergerak ke arah yang
ekstrem. Yang liberal banyak lebih fokus pada dunia, yang fundamentalis
lebih banyak fokus pada akhiratnya. Menurut saya, dalam konteks
kehidupan kekinian, posisi moderat adalah yang terbaik, dunia akhirat
sama-sama diperhitungkan dan dipikirkan.
Ada kisah menarik jaman
Rasulullah. Seorang sahabat bernama Usman bin Madz'un selalu berada di
masjid, tidak pulang-pulang, tidak mikir dunia dan hanya fokus akhirat.
Istrinya ditinggalkan dan tidak lagi disentuh. Si istri lapor pada
Rasulullah, dan rasulullah kemudian memanggilnya. Ketika ditanya kkenapa
dia tidak pulang-pulang di masjid, jawabnya adalah demi surga, demi
akhirat.
Rasulullah bertanya: "apakah kamu kira saya tidak ingin
masuk surga?" singkat cerita, rasulullah bersabda bahwa dengan gayanya
itu justru dia akan masuk neraka. Disuruhnya dia pulang menemui
istrinya, istirahat di tengan kesibukan, berbuka di samping berpuasa,
menyeimbangkan urusan dunia dengan akhiratnya.
Salam, AIM.
** Penulis: Prof. DR. KH.Imam Mawardi
(Pengasuh Pon-Pes Alif Lam Mim, Surabaya)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar