Sabtu, 10 Oktober 2015

JANGAN TERLALU GAMPANG MENYALAHKAN, MEMBID’AHKAN ATAU MENGKAFIRKAN ORANG LAIN !!!


Ada orang yang hanya mendengarkan setengah dari suatu pembicaraan, paham seperempatnya, namun berani berbicara tentangnya berkali lipat panjangnya dibandingkan dengan sang pembicara asli. Janganlah kita menjadi orang seperti ini dan berhati-hatilah dengan orang yang seperti ini.
Ada orang yang baru saja mulai belajar agama, tak sampai sepersepuluhnya yang dipelajarinya, seperduapuluh yang dipahaminya, tapi bicaranya panjang lebar sambil ngotot meyakinkan bahwa hanya dirinya yang benar dan yang lain salah. Yang paling unik adalah bahwa ulama-ulama besar yang ilmu dan amalnya diakui hebat oleh dunia Islam disesatkannya pula oleh orang yang baru belajar ini. Janganlah kita menjadi orang seperti ini dan hati-hatilah dengan orang seperti ini.
Semakin alim seseorang, semakin dia tahu bahwa ada yang lebih alim dari dirinya. Tak pernah diciptakan manusia yang dalam dirinya terkumpul kesemua ilmu, karenanya manusia harus hidup saling mengisi, saling berhubungan dan saling membantu. Kita perlu membaca orang-orang alim pada masa lalu, begitu baiknya akhlak mereka, ketawadlu'an mereka, tak malu untuk mengatakan tak tahu pada masalah yang memang beliau tidak tahu.
Menurut suatu riwayat, Imam Malik tidak berkenan memberikan fatwa hukum tentang suatu hal sebelum ada tujuh puluh orang yang memberikan kesaksian bahwa beliau memang memiliki keahlian dan hak fatwa pada hal yang dimintakan fatwa itu. Tak gampang mengatakan halal dan haram, iman dan kafir, sesat dan tidak sesat. Berhati-hatilah dalam berfatwa.
Berfatwa itu bagaikan menjahit; mufti itu penjahit, fatwanya adalah jarum jahitnya. Kalau benar dan baik penuh ketelitian dan kehati-hatian, maka hasil jahitannya akan bagus. Kalau tidak hati-hati, tidak teliti, dan tidak ahli, maka bukan hanya hasilnya rusak melainkan jarumnya bisa menyakiti dirinya sendiri.
Salam, AIM, Pengasuh Pondok Pesantren Kota Alif Laam Miim Surabaya.

Penulis : Prof. Dr. KH. Ahmad Imam Mawardi (Pengasuh Pon-Pes Alif Laam Miim Surabaya).
Posted by : Al-Afkar.

PANDAI-PANDAILAH MEMILIH SAHABAT / TEMAN



Ananda Moch. Firmansyah Bin Abah Sutamad menuliskan kata-kata indah: “Sometimes we just need someone who is like a pencil with an eraser, to write happiness and to erase all the sadness.” (Kadang kala kita hanya butuh seseorang yang seperti pensil lengkap dengan penghapusnya, untuk menuliskan kebahagiaan dan menghapus semua kesedihan).
Sayangnya, seringkali yang hadir kepada kita adalah orang yang menuliskan penderitaan dan menghapuskan kebahagiaan. Hati-hatilah mencari teman, lihatlah akhlaknya sebelum melihat atribut lainnya, perhatikan ibadahnya sebelum memperhatikan apa yang dimilikinya, telitilah pergaulannya sebelum meneliti pekerjaannya.
Mereka yang akhlaknya bagus, tutur kata dan akhlaknya indah dalam kesederhanaan, tidak melebihkan dan mengurangi, ibadahnya bagus dan istiqamah, serta pergaulannya dengan orang-orang baik itu adalah orang-orang yang layak masuk nominasi persahabatan dengan kita. Istikharahlah, Allah akan membimbing menuju persahabatan yang membahagiakan di dunia dan akhirat kelak.
Mereka yang terlalu banyak bicara dengan gaya mensucikan dan meninggikan diri, seakan menjadi orang yang hebat dalam segala-galanya, pergaulannya dengan para pembohong, penebar janji dan jago maksiat, serta tidak istiqamah dalam ibadah adalah mereka yang harus kita berhati-hati berdekatan dan bersama dengan mereka tang tak layak menjadi sahabat. Beristighfarlah dan mintalah perlindungan kepada Allah.
Dunia kita ini penuh sandiwara. Hati-hatilah karena yang ditampilkan kadang bukan realita yang sebenarnya. Banyak orang alim yang selalu diam tafakkur yang disangka bodoh, banyak orang yang selalu bicara penuh argumen tidak jelas yang dianggap pintar. Banyak orang kaya yang penampilannya biasa saja, sebagaimana banyak orang miskin yang biasa-biasa saja namun berpenampilan kaya walaupun hasil pinjaman. Ahhh, jangan bersandiwara lah, tampillah apa adanya. Salam, AIM
Penulis : Prof. Dr. KH. Ahmad Imam Mawardi (Pengasuh Pon-Pes Alif Laam Miim Surabaya).
Posted by : Al-Afkar.

Jumat, 09 Oktober 2015

TINDAK LANJUT TENTANG HARI SANTRI NASIONAL



Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Sirodj menyatakan bahwa Presiden Joko Widodo setuju tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional. “Pak Jokowi pada dasarnya merestui,” kata Said Aqil dalam konferensi pers di Kantor PBNU, Jakarta, Selasa.
Saat ini, kata dia, penetapan Hari Santri dalam proses administrasi di Kementerian Agama dan Kementerian Sosial. Menurut Said Aqil, Jokowi tadinya mau Hari Santri jatuh pada 1 Muharam, akan tetapi 1 Muharam merupakan Tahun Baru Islam, yang dirayakan umat Islam seluruh dunia.
Tanggal 22 Oktober dipilih karena mempresentasikan subtansi kesantrian yakni spritualitas dan patriotisme ketika Kiai Hasyim Asyari mengumumkan fatwa yang masyhur disebut Resolusi Jihad merespons agresi Belanda kedua. “Resolusi Jihad memuat seruan-seruan penting yang memungkinkan Indonesia tetap bertahan dan berdaulat sebagai negara dan bangsa,” kata Said Aqil.
Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini menjelaskan, terkait dengan perkembangan penetapan Hari Santri, Kementerian Agama telah mengirimkan surat kepada 10 ormas Islam. Informasi yang diperoleh Helmy, mayoritas ormas Islam itu telah memberikan persetujuan.
“Jadi posisinya sekarang surat dari ormas-ormas Islam itu sudah disampaikan ke Menteri Agama untuk dijadikan dasar penetapan pada Presiden,” kata dia. Selain itu, lanjut Helmy, 13 ormas Islam yang tergabung dalam Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) pun telah menyerahkan surat dukungan atas penetapan Hari Santri kepada Presiden Jokowi melalui Menteri Sekretaris Negara.
“Kalau mendengar bocorannya, insyaAllah tanggal 22 Oktober pemerintah akan menetapkan Hari Santri Nasional,” ujar mantan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal itu.
Berbagai acara akan digelar untuk memperingati Hari Santri, di antaranya Kirab Hari Santri Nasional, 16-22 Oktober, berangkat dari Tugu Pahlawan Surabaya melewati 30 PCNU sepanjang jalur Pantura dan berakhir di Tugu Proklamasi Jakarta.
Sepanjang tanggal itu juga dilaksanakan Ekspedisi Pelayaran Hari Santri Nasional menggunakan kapal perang yang diikuti 1.000 santri dengan melibatkan badan otonom, pesantren, dan ormas-ormas Islam. Dalam ekspedisi tersebut akan diselenggarakan apel lintas laut Jakarta-Surabaya-Bali.
Kegiatan lainnya adalah ziarah, bahtsul masail, istighotsah, lailatul ijtima, pengobatan gratis, dan pagelaran seni.
“Jadi, diresmikan ataupun tidak, Hari Santri 22 Oktober tetap akan kita peringati,” kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Sirodj.
Sumber: http://cyberdakwah.com

Posted by: Al-Afkar

ILMU DAHULU, BARU MENIKAH


Wasiat al-Imam Abu Hanifah an-Nu’man kepada Para Pemuda:

ولا تتوزوج الا بعد أن تعلم أنك تقدر على القيام بجميع حوائجها واطلب العلم أولا ثم اجمع المال من الحلال ثم تزوج,
 فانك ان طلبت المال في وقت التعلم عجزت عن طلب العلم ودعاك المال الى شراء الجواري والغلمان وتشتغل بالدنيا والنساء قبل تحصيل العلم,
فيضيع وقتك ويجتمع عليك الولد ويكثر عيالك فتحتاج الى القيام بمصالحهم وتترك العلم.

Janganlah engkau (terburu-buru) menikah kecuali setelah engkau tau bahwasanya engkau sudah mampu untuk bertanggung jawab memenuhi seluruh kebutuhan-kebutuhan istrimu. Carilah ilmu terlebih dahulu, kemudian (setelah punya ilmu) kumpulkanlah harta benda dari jalan yang halal lalu menikahlah.
Jika engkau mencari harta benda di tengah-tengah waktumu mencari ilmu, maka engkau akan lemah di dalam mendapatkan ilmu, karena harta benda selalu mengajakmu untuk terus berniaga dengan orang-orang sekitarmu, dan engkau akan tersibukkan dengan urusan dunia dan wanita sebelum engkau benar-benar mendapatkan ilmu.
(Jika itu yang terjadi) Maka waktumu akan tersia-siakan, dan engkau akan mempunyai banyak anak, keluargamu akan menjadi semakin banyak juga. Oleh karena itu, maka engkau akan sangat berhajat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka dan engkau lalu meninggalkan ilmu.

واشتغل بالعلم في عنفوان شبابك ووقت فراغ قلبك وخاطرك ثم اشتغل بالمال ليجتمع عندك,فان كثرة الولد والعيال يشوش البال, فاذا جمعت المال فتزوج.

Sibukkanlah waktumu dalam mencari ilmu pada masa-masa mudamu, pada waktu hatimu masih senggang dari banyak pikiran, kemudian setelah itu (setelah ilmu berhasil diraih), sibukkanlah dirimu untuk mengumpulkan harta benda. Karena sesungguhnya banyaknya anak dan keluarga akan mengganggu pikiran. Dan ketika harta sudah kau raih, maka menikahlah.
*Di nukil dari kitab al-Asybah wa an-Nadzoir li Ibni Najm.
Sumber: Santri.net

Posted by : Al-Afkar


Selasa, 06 Oktober 2015

PANDAI-PANDAILAH CARI CALON !!!

Saya sampaikan pada jamaah saya: "Andaikan kita menyenangi kitab hadits Shahih Bukhari sebagaimana kita menyukai Nasi Bukhari, maka tak perlu waktu lama untuk menjadi ahli hadits." Sayangnya adalah bahwa kita kebanyakan makan nasi bukhari, tapi tak pernah menela'ah kitab hadits shahih bukhari itu. Akibatnya adalah kita tak penah menjadi ahli hadits, melainkan hanya menjadi ahli hadats. Dari sisi kata, hanya beda satu huruf yakni i dan a, namun dari sisi makna berbeda sekali.
Imam Bukhari itu hebat. Beliau itu semangat, tekun, alim dan wara'. Beliau itu santun, penuh etika dan tak pernah mengeluh. Salah satu modal utama yang dimiliki beliau yang menjadikan beliau itu luar biasa adalah seorang ibu yang ahli ibadah yang tak pernah lupa mendoakan puteranya ini. Peran ibu dalam kehidupan seorang anak adalah fakta sejarah yang tak terbantahkan. Bukan berarti peran bapak tidak penting, melainkan bahwa peran ibu jangan dinomerduakan.

Dalam konteks ini saya setuju dengan apa yang disampaikan oleh KH. Maimun Zubair, kiai sepuh yang semoga senantiasa dipanjangkan umurnya dalam kesehatan dan pengabdian untuk Islam. Beliau suatu saat berkata: "Kalau kamu mencari istri, carilah wanita yang ahli ibadah, karena bagaimana anakmu nanti adalah sangat dipengaruhi oleh istrimu. Kalau terpaksa istrimu itu adalah orang yang gemar duniawi, maka kamulah yang harus menjadi ahli ibadah dan ahli tirakat." Kira-kira begitu terjemahan bebas nasehat beliau yang disampaikan dalam bahasa Jawa.
 
Apa makna nasehat itu? Bagaimana ibadah orang tua adalah sungguh menjadi salah satu menentu bagaimana kehidupan anaknya kelak. Karena itu, kalau cari istri, jangan lupa untuk juga melihat bagaimana ibadah calon mertua. Jangan lagi berkata: "yang akan kukawini adalah anaknya, bukan ibunya." ucapan ini tak perlu dikatakan, karena kalau mau ngawini ibunya pasti akan dibentak bapaknya.  Salam, AIM.



*) Penulis: Prof. DR. KH. Ahmad Imam Mawardi
(Pengasuh Pon-Pes Alif Lam Mim, Surabaya)

Posted by: Al-Afkar