Senin, 13 April 2015

Adikku… Hidup di Dunia Hanyalah Sementara

Adikku… Hidup di Dunia Hanyalah Sementara
Kecil, dimanja. Muda, foya-foya.Tua,kaya raya. Mati,masuk surga.
Inilah bahan candaan anak muda saat ini. Mungkin ini cuma bercanda. Namun, kadang juga ada yang punya prinsip hidup seperti ini. Begitu pula dengan seorang adik. Seorang adik dinasehati, “Dek, kamu di dunia ini hanya hidup sementara, jagalah ibadahmu.” Entah mengejek atau sekedar guyonan, dia menjawab, “Justru itu kak, kita manfaatkan hidup di dunia sekarang dengan foya-foya.
Sungguh adik yang satu ini jauh dari agama. Hidayah memang di tangan Allah. Namun nasehat haruslah terus disampaikan karena dialah adik satu-satunya yang setiap kakak pasti menginginkan kebaikan bagi saudaranya sebagaimana dia pun telah mendapatkan kebaikan.

Jumat, 03 April 2015

UNTUK SEMUA ANAK BANGSA

Ketika saya ada di rumah, kadang-kadang saya melihat beberapa acara TV. Ada yang aneh di beberapa acara; tak lucu tapi kok banyak yang tertawa, tak berbobot tapi kok banyak bertepuk tangan. Iseng saya tanya ke teman-teman yang bekerja di TV. Jawabnya adalah bahwa semua itu sesuai pesanan, diatur sebelumnya, dan mereka dibayar.
Luar biasa ya di negeri ini. Tepuk tangan saja bisa jadi bisnis. Inilah negeri makmur luar biasa, tertawa saja bisa menghasilkan uang. Tapi kalau tertawa dan tersenyum itu diatur sesuai dengan pesanan dan dibayar sesuai dengan kesepakatan, saya khawatir negeri ini kehilangan kejujuran dan keikhlasan.

O ya, tepuk tangan bisa juga jadi bisnis. Berikut juga foto copi KTP dan tanda tangan bisa dibisniskan menjelang pilkada.

Kamis, 02 April 2015

MUI: Ada Kekhawatiran Islamofobia dari Pemblokiran Situs Media Islam

KONTROVERSI pemblokiran 19 situs media Islam online oleh Kemenkominfo atas saran dari BNPT membuat Majelis Ulama Indonesia (MUI) angkat bicara dan memberikan pernyataan resminya.
Komisi Komunikasi dan Informasi Majelis Ulama Indonesia (Kominfo MUI) dalam siaran persnya dengan tegas menyatakan bahwa pemblokiran situs-situs media Islam haruslah mengacu pada kebebasan berpendapat sebagaimana diamanatkan dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Rabu, 01 April 2015

HIDUP MASIH KOMA BELUM TITIK

Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag , (Guru besar UINSA Surabaya)

Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sungguh, Engkau Maha Pemberi (karunia)". (QS. Ali Imran [03]:8)
              Pada ayat sebelumnya, Allah SWT menjelaskan adanya dua kelompok manusia dalam menyikapi ayat-ayat yang memerlukan pemikiran mendalam (mutasyabihat). Kelompok pertama meragukan makna aslinya dan mencoba mencari penafsiran baru. Sedangkan  kelompok kedua langsung mengimani apapun makna asli ayat tanpa berdipikir apalagi berdiskusi panjang. Merekalah mukmin sejati. Tapi pada ayat berikutnya, sebagaimana dikutip di atas, Allah mengingatkan secara tidak langsung bahwa petunjuk keimanan yang diberikan kepada seseorang bisa saja dicabut kembali oleh-Nya.

FII AHADIR RIWAAYAT


Oleh: KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy 
(Pengasuh PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo)

 
رجل كبير ينام فى المستشفى
Seorang tua sedang opname di rumah sakit
يزوره شاب كل يوم، ويجلس معه لأكثر من ساعة
Setiap hari ada seorang pemuda yang menjenguknya, ia habiskan waktu menyertainya
يساعدهُ على أكل طعامه والاغتسال، ويأخذهُ في جوله بحديقة المستشفى
Ia bantu menyuapi makanan, memandikan, dan membawanya keliling taman
ويساعدهُ على الاستلقاء، ويذهب بعد أن يطمئن عليه
Membantu membaringkannya, dan ketika terlelap baru ditinggalkan pergi
دخلت عليه المُمرضة في إحدى الأيام لتعطيه الدوآء وتتفقد حاله
Suatu hari seorang perawat masuk untuk memberi obat dan memeriksa kondisinya