Rabu, 01 April 2015

HIDUP MASIH KOMA BELUM TITIK

Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag , (Guru besar UINSA Surabaya)

Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sungguh, Engkau Maha Pemberi (karunia)". (QS. Ali Imran [03]:8)
              Pada ayat sebelumnya, Allah SWT menjelaskan adanya dua kelompok manusia dalam menyikapi ayat-ayat yang memerlukan pemikiran mendalam (mutasyabihat). Kelompok pertama meragukan makna aslinya dan mencoba mencari penafsiran baru. Sedangkan  kelompok kedua langsung mengimani apapun makna asli ayat tanpa berdipikir apalagi berdiskusi panjang. Merekalah mukmin sejati. Tapi pada ayat berikutnya, sebagaimana dikutip di atas, Allah mengingatkan secara tidak langsung bahwa petunjuk keimanan yang diberikan kepada seseorang bisa saja dicabut kembali oleh-Nya.
              Jika Anda saya beri mobil mewah, tapi Anda tidak menggunakan dan merawatnya dengan baik, maka ada alasan bagi saya untuk menariknya kembali. Jika saya suguhkan makanan paling lezat, tapi justru Anda buang ke tong sampah, maka saya berkesimpulan, Anda tidak menyukainya. Petunjuk Allah juga demikian. Jika Anda telah diberi Allah anugrah termahal yaitu petunjuk agama, tapi Anda tidak menyuburkannya dengan perbuatan terpuji, maka itu berarti Anda tidak memerlukan petunjuk. Anda pasti sedang mabuk, tidak sadar bahwa Anda tidak bisa hidup tanpa petunjuk Allah. Apa mungkin Anda bisa berjalan di tengah kegelapan tanpa cahaya? Satu detik saja Anda terlepas dari petunjuk Allah, Anda pasti sesat.
Bisakah penggiat agama berubah menjadi pezina? Mungkinkah seorang kiai berubah menjadi pencuri? Atau seorang ustad berubah menjadi murtad? Jawabannya: serba mungkin, mengapa tidak, karena mereka bukan nabi. Hidup penuh spekulasi dan teka-teki. Hidup masih koma, belum titik. Anda semakin yakin dengan jawaban itu setelah membaca kisah berikut.
Pada masa Bani Israil, hiduplah Barshisha, pujaan dan rujukan moral puluhan ribu orang karena keilmuan dan kesalehannya. Hampir semua murid dan pengikut setianya yang mencapai 60.000 orang bisa terbang karena kehebatan ilmu dan spiritualnya. Apalagi kelebihan sang guru, Barshisha. Tidak hanya manusia, para malaikat juga amat kagum pada guru semua ustad ini. Tapi, Allah mengingatkan para malaikat agar tidak tergesa-gesa menyanjungnya. “Jangan tergesa-gesa mengaguminya. Dengan ilmu-Ku, Aku Maha Mengetahui, apa yang tidak kalian ketahui,” kata Allah.
Pada suatu saat, Iblis mendatangi Barshisha untuk pura-pura berguru. Selama belajar, Iblis hanya beribadah, tidak makan dan minum sama sekali. Barshisha bertanya, ”Bagaimana kamu kuat beribadah sekian lama? Bagaimana pula kamu bisa menahan makan dan minum berhari-hari selama beribadah?. “Saya telah beribadah bertahun-tahun tapi belum bisa seperti kamu.” Iblis menjawab, ”Saya beribadah begini karena saya memiliki sejarah hitam, daftar dosaku amat panjang, lalu bertobat secara sungguh-sungguh. Jika tuan pernah berzina atau membunuh orang, lalu bertobat, pastilah tuan bisa merasakan nikmatnya ibadah. Cobalah sekali saja berzina atau membunuh orang.”
Barshisha menolak untuk berzina dan membunuh karena keduanya dosa besar. Tapi dengan kepandaian rayuan Iblis, akhirnya ia mau mencicipi minuman keras.  “Ya, itu dosa kecil, dan lebih mudah diampuni Allah, karena tidak menyangkut orang lain,” kata Iblis memberi dorongan. Setelah diberitahu tempat penjualan miras, Barshisha berangkat menuju kedai miras di sebuah desa. Kebetulan, penjaganya wanita berparas menawan. Ketika mabuk setelah sedikit miras yang diminumnya, ia tidak bisa mengendalikan rangsangan nafsu pada wanita cantik itu dan terjadilah pemerkosaan.
Nasib lagi sial. Barshisha kepergok oleh sang suami yang datang pada kejadian itu. Ia cepat mengambil keputusan untuk membunuhnya. Iblis bergembira karena Barshisha telah melakukan tiga dosa sekaligus, yaitu mabuk, zina dan membunuh. Ia ditangkap aparat keamanan dan dihukum mati. Di tiang gantungan, ia didatangi Iblis, ”Maukah kamu saya tolong agar lepas dari hukuman ini? Jika mau, segera pejamkan mata dan tundukkan kepala sejenak kepadaku.” Ketika ia melakukan perintah Iblis itu, ia menghembuskan nafas terakhir.  Na’udzu billah.
            Sekarang sebaliknya, mungkinkah seorang pencuri berubah menjadi kiai? Bisakah Wanita Tuna Susila (WTS) berubah menjadi penyuluh agama? Mungkinkah pembunuh bayaran berubah menjadi ustad pengajar Al Qur’an? Masihkah ada harapan anak pecandu narkoba menjadi anak kebanggan orang tua? Sekali lagi, saya suguhkan sebuah kisah agar Anda bisa menjawab pertanyaan tersebut.
Pada tahun 800an Masehi, hiduplah pemuda yang terkenal kaya,  Abu Nashr, Bisyri bin al Harits. Tiada hari lewat tanpa foya-foya dan minuman memabukkan. Suatu hari, ia berjalan terhuyung-huyung karena baru saja menenggak beberapa botol miras. Dalam perjalanan itu, ia menemukan secarik kertas kusut bertuliskan bismillahirrahmanirrahim (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang). Ia membacanya dengan senyum bahagia. Dibacanya sampai berulang kali. Setelah menciumi kertas temuannya itu, ia mengambil minyak mawar untuk dipercikkan di atasnya, lalu menyimpannya di tempat yang spesial.
Pada malam hari berikutnya, seorang syekh mendapat perintah dalam mimpinya, “Carilah anak muda dengan ciri-ciri begini begitu, dan katakan, bahwa Allah telah mengharumkannya, karena ia telah mengharumkan nama-Nya. Allah juga memuliakannya karena ia telah memuliakan-Nya.”  Syekh itu terus penasaran, siapa dan di mana pemuda itu?.
Setelah dicari sekian hari, syekh berhasil menemukan pemuda dengan ciri-ciri yang disebutkan dalam mimpi. Tapi syekh ragu, karena ada bau miras menyengat dari mulut si pemuda. “Mungkinkah pemuda seperti ini diharumkan dan dimuliakan Allah?,” tanya syekh dalam hati keheranan.  Untuk menghilangkan keraguan, syekh mengambil air wudlu dan shalat malam. Ternyata ia memperoleh mimpi yang sama. Sampai mimpi pada malam ketiga juga tidak berbeda, tetap mengisyaratkan pemuda dengan ciri-ciri semula.
Pagi buta, syekh berangkat menemui sang pemuda. Syekh kaget tidak kepalang,  pemuda itu ditemukan sedang berpesta miras anggur dengan rekan-rekannya. Pemuda itu menolak diajak bicara oleh syekh dan selalu menyebutnya salah sasaran. Akan tetapi, setelah syekh meyakinkan apa yang diperoleh dalam mimpinya, pemuda itu dengan senang hati mendengar petuahnya. “Anda orang terpilih. Allah mencium Anda, karena Anda mencium kertas bertuliskan nama-Nya. Anda dimuliakan Allah, karena Anda telah memerciki minyak mawar dan menempatkan kertas bertuliskan Kasih-Nya di tempat terhormat.” Begitulah kira-kira petuah sejuk syekh kepada pemuda yang sedang tidak beralas kaki saat itu.
Sentuhan kasih sang syekh itulah yang meluluhkan hati sang pemuda untuk bertobat. Mantan peminum miras itu kemudian bersungguh-sungguh belajar dan menjalankan agama, sampai ia diakui oleh ulama-ulama setempat sebagai ulama besar dan dipandang syekh paling kharismatik oleh masyarakat Irak.
            Jangan sekali-kali memandang sinis pelaku dosa, sebab ia bukan setan yang tidak ada kemungkinan menjadi baik. Jika ia bertobat dan terus menerus menambah ilmu dan ibadahnya, bisa jadi ia melampaui keilmuan dan kesalehan Anda. Apa kata dunia? Anda pasti menanggung malu. Anda juga tidak perlu memuja-muja orang shaleh yang masih hidup, sebab ia bukan malaikat yang tidak ada kemungkinan menjadi jelek. Tidak ada jaminan bahwa orang shaleh, termasuk Anda, bisa tetap shaleh seperti sekarang. Esok hari penuh spekulasi baik dan buruk. Hidup itu masih koma, belum titik. Kita berharap titik kita adalah husnul khatimah yaitu mati dengan iman yang sempurna.

Sumber: Web Resmi UINSA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar