“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sungguh, Engkau Maha Pemberi (karunia)". (QS. Ali Imran [03]:8)
Pada ayat sebelumnya, Allah SWT menjelaskan adanya dua kelompok manusia
dalam menyikapi ayat-ayat yang memerlukan pemikiran mendalam (mutasyabihat).
Kelompok pertama meragukan makna aslinya dan mencoba mencari penafsiran
baru. Sedangkan kelompok kedua langsung mengimani apapun makna
asli ayat tanpa berdipikir apalagi berdiskusi panjang. Merekalah mukmin
sejati. Tapi pada ayat berikutnya, sebagaimana dikutip di atas, Allah
mengingatkan secara tidak langsung bahwa petunjuk keimanan yang
diberikan kepada seseorang bisa saja dicabut kembali oleh-Nya.
Jika Anda saya beri mobil mewah, tapi Anda tidak menggunakan dan
merawatnya dengan baik, maka ada alasan bagi saya untuk menariknya
kembali. Jika saya suguhkan makanan paling lezat, tapi justru Anda buang
ke tong sampah, maka saya berkesimpulan, Anda tidak menyukainya.
Petunjuk Allah juga demikian. Jika Anda telah diberi Allah anugrah
termahal yaitu petunjuk agama, tapi Anda tidak menyuburkannya dengan
perbuatan terpuji, maka itu berarti Anda tidak memerlukan petunjuk. Anda
pasti sedang mabuk, tidak sadar bahwa Anda tidak bisa hidup tanpa
petunjuk Allah. Apa mungkin Anda bisa berjalan di tengah kegelapan tanpa
cahaya? Satu detik saja Anda terlepas dari petunjuk Allah, Anda pasti
sesat.
Bisakah penggiat agama berubah menjadi pezina? Mungkinkah seorang
kiai berubah menjadi pencuri? Atau seorang ustad berubah menjadi murtad?
Jawabannya: serba mungkin, mengapa tidak, karena mereka bukan nabi.
Hidup penuh spekulasi dan teka-teki. Hidup masih koma, belum titik. Anda
semakin yakin dengan jawaban itu setelah membaca kisah berikut.
Pada masa Bani Israil, hiduplah Barshisha, pujaan dan rujukan moral
puluhan ribu orang karena keilmuan dan kesalehannya. Hampir semua murid
dan pengikut setianya yang mencapai 60.000 orang bisa terbang karena
kehebatan ilmu dan spiritualnya. Apalagi kelebihan sang guru, Barshisha.
Tidak hanya manusia, para malaikat juga amat kagum pada guru semua
ustad ini. Tapi, Allah mengingatkan para malaikat agar tidak
tergesa-gesa menyanjungnya. “Jangan tergesa-gesa mengaguminya. Dengan
ilmu-Ku, Aku Maha Mengetahui, apa yang tidak kalian ketahui,” kata
Allah.
Pada suatu saat, Iblis mendatangi Barshisha untuk pura-pura berguru.
Selama belajar, Iblis hanya beribadah, tidak makan dan minum sama
sekali. Barshisha bertanya, ”Bagaimana kamu kuat beribadah sekian lama?
Bagaimana pula kamu bisa menahan makan dan minum berhari-hari selama
beribadah?. “Saya telah beribadah bertahun-tahun tapi belum bisa seperti
kamu.” Iblis menjawab, ”Saya beribadah begini karena saya memiliki
sejarah hitam, daftar dosaku amat panjang, lalu bertobat secara
sungguh-sungguh. Jika tuan pernah berzina atau membunuh orang, lalu
bertobat, pastilah tuan bisa merasakan nikmatnya ibadah. Cobalah sekali
saja berzina atau membunuh orang.”
Barshisha menolak untuk berzina dan membunuh karena keduanya dosa
besar. Tapi dengan kepandaian rayuan Iblis, akhirnya ia mau mencicipi
minuman keras. “Ya, itu dosa kecil, dan lebih mudah diampuni
Allah, karena tidak menyangkut orang lain,” kata Iblis memberi dorongan.
Setelah diberitahu tempat penjualan miras, Barshisha berangkat menuju
kedai miras di sebuah desa. Kebetulan, penjaganya wanita berparas
menawan. Ketika mabuk setelah sedikit miras yang diminumnya, ia tidak
bisa mengendalikan rangsangan nafsu pada wanita cantik itu dan
terjadilah pemerkosaan.
Nasib lagi sial. Barshisha kepergok oleh sang suami yang datang pada
kejadian itu. Ia cepat mengambil keputusan untuk membunuhnya. Iblis
bergembira karena Barshisha telah melakukan tiga dosa sekaligus, yaitu
mabuk, zina dan membunuh. Ia ditangkap aparat keamanan dan dihukum mati.
Di tiang gantungan, ia didatangi Iblis, ”Maukah kamu saya tolong agar
lepas dari hukuman ini? Jika mau, segera pejamkan mata dan tundukkan
kepala sejenak kepadaku.” Ketika ia melakukan perintah Iblis itu, ia
menghembuskan nafas terakhir. Na’udzu billah.
Sekarang sebaliknya, mungkinkah seorang pencuri berubah menjadi kiai?
Bisakah Wanita Tuna Susila (WTS) berubah menjadi penyuluh agama?
Mungkinkah pembunuh bayaran berubah menjadi ustad pengajar Al Qur’an?
Masihkah ada harapan anak pecandu narkoba menjadi anak kebanggan orang
tua? Sekali lagi, saya suguhkan sebuah kisah agar Anda bisa menjawab
pertanyaan tersebut.
Pada tahun 800an Masehi, hiduplah pemuda yang terkenal kaya,
Abu Nashr, Bisyri bin al Harits. Tiada hari lewat tanpa foya-foya dan
minuman memabukkan. Suatu hari, ia berjalan terhuyung-huyung karena baru
saja menenggak beberapa botol miras. Dalam perjalanan itu, ia menemukan
secarik kertas kusut bertuliskan bismillahirrahmanirrahim (Dengan
nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang). Ia membacanya dengan
senyum bahagia. Dibacanya sampai berulang kali. Setelah menciumi kertas
temuannya itu, ia mengambil minyak mawar untuk dipercikkan di atasnya,
lalu menyimpannya di tempat yang spesial.
Pada malam hari berikutnya, seorang syekh mendapat perintah dalam
mimpinya, “Carilah anak muda dengan ciri-ciri begini begitu, dan
katakan, bahwa Allah telah mengharumkannya, karena ia telah mengharumkan
nama-Nya. Allah juga memuliakannya karena ia telah
memuliakan-Nya.” Syekh itu terus penasaran, siapa dan di mana
pemuda itu?.
Setelah dicari sekian hari, syekh berhasil menemukan pemuda dengan
ciri-ciri yang disebutkan dalam mimpi. Tapi syekh ragu, karena ada bau
miras menyengat dari mulut si pemuda. “Mungkinkah pemuda seperti ini
diharumkan dan dimuliakan Allah?,” tanya syekh dalam hati
keheranan. Untuk menghilangkan keraguan, syekh mengambil air wudlu
dan shalat malam. Ternyata ia memperoleh mimpi yang sama. Sampai mimpi
pada malam ketiga juga tidak berbeda, tetap mengisyaratkan pemuda dengan
ciri-ciri semula.
Pagi buta, syekh berangkat menemui sang pemuda. Syekh kaget tidak
kepalang, pemuda itu ditemukan sedang berpesta miras anggur dengan
rekan-rekannya. Pemuda itu menolak diajak bicara oleh syekh dan selalu
menyebutnya salah sasaran. Akan tetapi, setelah syekh meyakinkan apa
yang diperoleh dalam mimpinya, pemuda itu dengan senang hati mendengar
petuahnya. “Anda orang terpilih. Allah mencium Anda, karena Anda mencium
kertas bertuliskan nama-Nya. Anda dimuliakan Allah, karena Anda telah
memerciki minyak mawar dan menempatkan kertas bertuliskan Kasih-Nya di
tempat terhormat.” Begitulah kira-kira petuah sejuk syekh kepada pemuda
yang sedang tidak beralas kaki saat itu.
Sentuhan kasih sang syekh itulah yang meluluhkan hati sang pemuda
untuk bertobat. Mantan peminum miras itu kemudian bersungguh-sungguh
belajar dan menjalankan agama, sampai ia diakui oleh ulama-ulama
setempat sebagai ulama besar dan dipandang syekh paling kharismatik oleh
masyarakat Irak.
Jangan sekali-kali memandang sinis pelaku dosa, sebab ia bukan setan
yang tidak ada kemungkinan menjadi baik. Jika ia bertobat dan terus
menerus menambah ilmu dan ibadahnya, bisa jadi ia melampaui keilmuan dan
kesalehan Anda. Apa kata dunia? Anda pasti menanggung malu. Anda juga
tidak perlu memuja-muja orang shaleh yang masih hidup, sebab ia bukan
malaikat yang tidak ada kemungkinan menjadi jelek. Tidak ada jaminan
bahwa orang shaleh, termasuk Anda, bisa tetap shaleh seperti sekarang.
Esok hari penuh spekulasi baik dan buruk. Hidup itu masih koma, belum
titik. Kita berharap titik kita adalah husnul khatimah yaitu mati dengan iman yang sempurna.
Sumber: Web Resmi UINSA.
Sumber: Web Resmi UINSA.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar