Jumat, 03 April 2015

UNTUK SEMUA ANAK BANGSA

Ketika saya ada di rumah, kadang-kadang saya melihat beberapa acara TV. Ada yang aneh di beberapa acara; tak lucu tapi kok banyak yang tertawa, tak berbobot tapi kok banyak bertepuk tangan. Iseng saya tanya ke teman-teman yang bekerja di TV. Jawabnya adalah bahwa semua itu sesuai pesanan, diatur sebelumnya, dan mereka dibayar.
Luar biasa ya di negeri ini. Tepuk tangan saja bisa jadi bisnis. Inilah negeri makmur luar biasa, tertawa saja bisa menghasilkan uang. Tapi kalau tertawa dan tersenyum itu diatur sesuai dengan pesanan dan dibayar sesuai dengan kesepakatan, saya khawatir negeri ini kehilangan kejujuran dan keikhlasan.

O ya, tepuk tangan bisa juga jadi bisnis. Berikut juga foto copi KTP dan tanda tangan bisa dibisniskan menjelang pilkada.
Benar-benar makmur negara kita ini. Tapi saya khawatir harga diri dan rasa malu juga dijual belikan, lalu di mana wibawa negara ini. Tak lagi mampu menentukan nasib negara sendiri, semuanya harus sesuai dengan pesanan yang "membeli." Semoga tidak bergerak menuju kehancuran. Bangkitlah negeriku, kami rindu kedaulatan, kami rindu kedamaian dan kami rindu senyum tulus semua anak bangsa.
Kasihan masyarakat kecil, ketika kesulitan membayar biaya sekolah dan kesehatan anaknya, selalu dinasehati agar mengencangkan ikat pinggang agar bisa bertahan hidup. Masyarakat kecil menjawab: "jangankan ikat pinggang, pinggangpun kami sudah tak punya, apanya yang harus diikat?" Kasihan mereka. Andaikan saya bisa dan diberi kuasa mewakili pemerintah, akan saya sapaikan dari mimbar ke mimbar: "Kami atas nama pemerintah, mohon maaf karena sampai saat ini belum bisa menunaikan janji-janji kampanye kami." Meminta maaf itu sifat jantan seorang lelaki sejati. Setuju?
Salam, AIM.
Sumber: Status FB Dr. KH. Ahmad Imam Mawardi,MA. (Pengasuh Ponpes Kota Alif Laam Miim Surabaya)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar